Dunia yang selalu dengan berbagai gerak geriknya. Membawa luka maupun cinta. Bisa menjadikan dirinya jenaka bisa juga menjadikan dirinya petaka. Dengan segala rupa dan kesempurnaannya, mengapa manusia diciptakan? Manusia dihadirkan. Manusia dihidupkan. Mengapa?
Manusia, saya, anda, kita semua hadir. Tidak dengan begitu saja dan tiba-tiba, kan? Seakan-akan dunia diberikan surprise party berupa manusia oleh Tuhan. Kalau hadirnya begitu, bisa saja begitu membuka kadonya dan tahu kalau isinya manusia seperti kita ini, langsung dibuang keblackhole. Pitty us, right?
Tetapi untungnya tidak begitu. Boleh bernafas lega ya. Manusia hadir tidak dengan terburu-buru. Banyak proses yang dilalui hingga menjadi manusia saat ini. Kalau zaman lampau saya tidak tahu sih, karena hidupnya zaman sekarang. Banyak yang manusia lalui. Mulai yang dari kita tahu sampai yang tidak tahu.
Yang kita tidak tahu? Banyak. Banyak hal-hal yang tidak tertuliskan di buku sejarah kita, loh. Misal, tentang kehadiran manusia sebelum kita, teknologi yang ada sebelum kita atau selain yang diumumkan dengan berbagai penghargaan Nobel-nya, gaya berpakaian, bahkan pola pikir. Pasti ada selisih yang cukup jauh tentang manusia dulu dan sekarang. Seberapa jauhnya, mungkin nanti akan terungkap. Namun ini yang bisa dianggap sebagai proses. Proses untuk menjadikan apa yang kita tidak tahu nanti.
Proses ini yang saat ini menghadirkan kita manusia zaman sekarang. Baik atau tidaknya itu relatif, semua boleh berpendapat. Tapi apakah sudah benar? Apakah rasanya sudah baik proses hingga saat ini? Tidak.
I'll break some tea that I know.
Manusia itu arogan dan egois. Sayangnya, iya. Terlebih terhadap lingkungan. Sesederhana, kecintaan kita terhadap bumi, dunia beserta isinya itu kurang.
Berapa banyak manusia hidup yang menggunakan bahan bakar minyak?
Berapa banyak limbah perusahaan yang mengotori laut dan udara?
Berapa banyak sampah yang dihasilkan dalam satu kepala rumahtangga?
Berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh satu orang?
Tidak sadarkah kalau sedikit saja yang satu orang perbuat bisa menjadikannya banyak kalau dilakukan bersama. Satu hembusan asap menjadikannya banyak jika dijadikannya sejuta. Satu orang membuang sampah ke lembah tidak akan berpengaruh apa-apa. Namun kalau sejuta? Bisa saja seluruh lembah di bumi tertambal semua. Lalu, apa yang mau diturunkan kepada generasi selanjutnya? Pulau sampah? Air dari minyak? Atau pohon plastik?
Manusia itu baik. Kalau semua mau bekerja sama, satu kebaikan akan menjadi sejuta kebaikan kalau dikerjakan bersama. Kesadaran manusia dalam berlingkungan akan menjadikan dunia menjadi lebih baik.
Mengapa tidak. Saat ini sudah canggih kok. Sampah yang dapat didaur ulang, bank sampah plastik untuk rumah tangga, kampanye zero waste, pola hidup minimalis dengan decluttering. Pentingnya berkesadaran dalam menghasilkan limbah dari diri sendiri demi hidup yang lebih baik.
Dunia telah memberikan kesempurnaannya kepada kita. Mengapa kita tidak?
Sincerely, me.
Gadis