Sekian kali

Sekian senja dia menanti. Entah sudah senja ke berapa kalinya begini. Selalu di jendela ini. Di tempat yang sama dan waktu yang sama. Orang yang sama, dengan raut wajah yang sama. Potongan-potongan memori sendu menghampiri. Menjadikannya sebagai yang paling mendung di jendela itu. Padahal di luar cerah dengan awan yang bertumpuk indah. Tapi tidak seindah apa yang membuat pikiran dia berkabut dan sendu pasti.

"Ah, jangan bersedih" pasti begitu pikirnya. Anggapnya mudah, tapi tidak begitu.

Ini sudah Ramadhan ke sekian seperti ini. Sendiri saja. Melamun memakan waktu. Padahal sedang puasa, kan. Biasanya sore begini bermain petasan sambil tertawa, bergurau menertawakan diri sendiri dan teman, pergi membeli takjil untuk berbuka puasa. Mengingatnya saja menjadi tersenyum sendiri. Namun sekarang tidak. Tidak semudah itu mengembalikan senyumannya. Meskipun dia sendiri yang ingin. Tidak. Bisa.

18:00

Sudah menjelang buka. Kalau tidak segera bisa-bisa buka puasa dengan air putih lagi nanti. Dia harus bergegas. Ayo! Di depan komplek saja agar dekat. Terbuyar dari lamunan mimpi sorenya, segera dia menyiapkan dirinya dan berangkat. Untung saja terkejar waktunya.

Sayup dari kejauhan, adzan memanggil. Sudah saatnya aku pergi. Maaf aku hanya bisa menemanimu seperti ini tidak seperti dulu. Aku merindukanmu juga. Kita bertemu lagi segera ya.

Dunia dan Manusia

Dunia yang selalu dengan berbagai gerak geriknya. Membawa luka maupun cinta. Bisa menjadikan dirinya jenaka bisa juga menjadikan dirinya petaka. Dengan segala rupa dan kesempurnaannya, mengapa manusia diciptakan? Manusia dihadirkan. Manusia dihidupkan. Mengapa?

Manusia, saya, anda, kita semua hadir. Tidak dengan begitu saja dan tiba-tiba, kan? Seakan-akan dunia diberikan surprise party berupa manusia oleh Tuhan. Kalau hadirnya begitu, bisa saja begitu membuka kadonya dan tahu kalau isinya manusia seperti kita ini, langsung dibuang keblackhole. Pitty us, right?

Tetapi untungnya tidak begitu. Boleh bernafas lega ya. Manusia hadir tidak dengan terburu-buru. Banyak proses yang dilalui hingga menjadi manusia saat ini. Kalau zaman lampau saya tidak tahu sih, karena hidupnya zaman sekarang. Banyak yang manusia lalui. Mulai yang dari kita tahu sampai yang tidak tahu.

Yang kita tidak tahu? Banyak. Banyak hal-hal yang tidak tertuliskan di buku sejarah kita, loh. Misal, tentang kehadiran manusia sebelum kita, teknologi yang ada sebelum kita atau selain yang diumumkan dengan berbagai penghargaan Nobel-nya, gaya berpakaian, bahkan pola pikir. Pasti ada selisih yang cukup jauh tentang manusia dulu dan sekarang. Seberapa jauhnya, mungkin nanti akan terungkap. Namun ini yang bisa dianggap sebagai proses. Proses untuk menjadikan apa yang kita tidak tahu nanti.

Proses ini yang saat ini menghadirkan kita manusia zaman sekarang. Baik atau tidaknya itu relatif, semua boleh berpendapat. Tapi apakah sudah benar? Apakah rasanya sudah baik proses hingga saat ini? Tidak.

I'll break some tea that I know.
Manusia itu arogan dan egois. Sayangnya, iya. Terlebih terhadap lingkungan. Sesederhana, kecintaan kita terhadap bumi, dunia beserta isinya itu kurang.
Berapa banyak manusia hidup yang menggunakan bahan bakar minyak?
Berapa banyak limbah perusahaan yang mengotori laut dan udara?
Berapa banyak sampah yang dihasilkan dalam satu kepala rumahtangga?
Berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh satu orang?
Tidak sadarkah kalau sedikit saja yang satu orang perbuat bisa menjadikannya banyak kalau dilakukan bersama. Satu hembusan asap menjadikannya banyak jika dijadikannya sejuta. Satu orang membuang sampah ke lembah tidak akan berpengaruh apa-apa. Namun kalau sejuta? Bisa saja seluruh lembah di bumi tertambal semua. Lalu, apa yang mau diturunkan kepada generasi selanjutnya? Pulau sampah? Air dari minyak? Atau pohon plastik?

Manusia itu baik. Kalau semua mau bekerja sama, satu kebaikan akan menjadi sejuta kebaikan kalau dikerjakan bersama. Kesadaran manusia dalam berlingkungan akan menjadikan dunia menjadi lebih baik.

Mengapa tidak. Saat ini sudah canggih kok. Sampah yang dapat didaur ulang, bank sampah plastik untuk rumah tangga, kampanye zero waste, pola hidup minimalis dengan decluttering. Pentingnya berkesadaran dalam menghasilkan limbah dari diri sendiri demi hidup yang lebih baik.

Dunia telah memberikan kesempurnaannya kepada kita. Mengapa kita tidak?

Sincerely, me.
Gadis

Menulis?

Menulis? Ketika diberi pertanyaan atau topik ini terkadang bingung ya. Karena, kita sudah dibesarkan untuk mengetahui apa itu huruf dan angka, bagaimana untuk merangkainya, baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Sederhana. Namun dampaknya besar.

Dari menulis banyak hal dapat terjadi. Percaya atau tidak, tulisan memiliki kekuatan tersendiri, karena dengan tulisan saja mampu mempengaruhi orang lain. Mulai dari kisah inspiratif orang yang sukses hingga resep memasak. Iya, semua itu dari tulisan saja.

Dari era digital sekarang pun, banyak yang tidak sadar jika 'produk digital' yang sering kita gunakan adalah berawal dari tulisan. Saya beri contoh, media sosial. Kebanyakan dari kita pasti menggunakan media sosial. Mulai dari usia belia maupun senja. Bukannya wajar kalau banyak huruf dan kata dari media sosial? Tidak, bukan itu yang saya maksud. Coba kita gali lebih dalam lagi. Media sosial di platform Android atau iOS, yang banyak dari kita gunakan, berawal dari coding. Coding ini merupakan bahasa pemrograman yang ber-isikan tulisan-tulisan dari sang programer. Dari coding inilah bisa terbentuk aplikasi-aplikasi yang sering kita gunakan. Menarik bukan? Tetapi jangan dibahas lebih dalam, karena bukan ranah saya. Hihi.

Dari huruf, kata, tulisan, kita bisa menemukan hal hal besar. Menulis sudah menjadi budaya umum bagi manusia. Dengan menulis kita bisa menjadi diri sendiri atau orang lain. Namun, jadilah penulis yang bijak. Karena, manusia pasti ingin menjadi versi terbaik dari dirinya, kan?

Menulislah dengan sadar. Menulislah dengan senang. Menulislah dengan bijak. Karena dari apa yang kita beri dengan sebaik mungkin, maka akan kembali dengan baik juga untuk kita sendiri.

Sincerely, Me.
Gadis.

tweeting everytime everywhere i am :)

kumpulan kata kata yang sangat tidak mencerminkan sikap dan tingkah laku yang pantas untuk ditiru tapi selalu saja dilakukan karena telah menjadi kebiasaan tersendiri bagi penulis dan mungkin bagi sebagian pembaca. dimohon agar tidak terkontaminasi dengan tulisan yang tertera di halaman laknat ini


My Blog List

Followers